Tampilkan postingan dengan label Hormon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hormon. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 April 2010

Mudah Lupa Saat Hamil? Hormon Pemicunya

Banyak ibu hamil yang mengeluhkan dirinya jadi lebih pelupa, terutama untuk hal-hal kecil, seperti lupa meletakkan kunci atau mengingat nama seseorang. Studi menunjukkan, naiknya kadar hormon selama kehamilan menjadi biang keladinya.

Dalam sebuah penelitian, Diane Farrar dari University of Bradford, Inggris, melakukan sebuah tes memori spasial terhadap ibu hamil. Memori spasial adalah daya ingat mengenai ruang, misalnya, di mana mobil diparkir atau kacamata disimpan.

Para peneliti juga mengukur kadar hormon seks dan meminta para responden menjawab pertanyaan mengenai kadar kecemasan dan mood mereka. Hasil studi yang melibatkan 23 ibu hamil ini dibandingkan dengan 24 wanita yang tidak hamil.

Selama trisemester kedua dan ketiga, para ibu hamil secara signifikan memiliki memori spasial yang lebih buruk dibandingkan rekannya yang tidak hamil. Gangguan daya ingat bahkan masih tinggal hingga tiga bulan pasca-persalinan. Para ibu hamil juga dilaporkan memiliki mood yang tidak stabil dan dilanda kecemasan selama hamil.

Menurut studi yang dipresentasikan dalam pertemuan Society for Endocrinology di Inggris itu, tingginya kadar hormon seks yang bersirkulasi dalam tubuh ibu hamil diduga berpengaruh negatif terhadap bagian saraf di otak yang berfungsi dalam daya ingat spasial.

"Seperti diketahui, steroid seks dalam kadar tinggi bisa berdampak merusak di saraf. Meski begitu, kami tidak bisa berspekulasi bahwa hal ini hanya dipengaruhi oleh hormon, mungkin masih ada sebab lainnya," kata Farrar.

Kemungkinan lain adalah perasaan depresi yang sering dialami ibu hamil berpengaruh terhadap daya ingatnya. Para ahli juga mencatat bahwa tidak semua ibu hamil mengalami gangguan daya ingat.

KOMPAS.com

Rabu, 24 Maret 2010

Hormon Cinta Juga Memicu Cemburu

KOMPAS.com - Rasanya tak berlebihan kalau ada yang bilang batas antara benci dan cinta itu sangat tipis. Pasalnya, studi terkini menunjukkan bahwa oksitosin, si hormon cinta itu, ternyata juga memicu rasa cemburu dan iri hati.

Hormon oksitosin yang menyebabkan rasa ingin berdekatan dan bersentuhan, selama ini memiliki reputasi sebagai hormon cinta. Hormon ini akan dilepaskan saat seorang ibu melahirkan bayinya atau saat seseorang sedang bercinta. Tapi nyatanya hormon ini juga bisa menimbulkan perasaan yang bertolak belakang.

"Kami menduga hormon ini memicu rasa sentimen sosial; saat asosiasi seseorang positif, oksitoksin yang dilepas akan menimbulkan sikap yang positif pula. Sebaliknya, saat asosiasi negatif yang timbul, hormon ini akan meningkatkan rasa sentimen negatif," kata Simone Shamay Tsoory, dari Universitas Haifa, Israel.

Kesimpulan Shamay tersebut dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap tikus. Tikus percobaan yang diberi hormon oksitoksin bersikap lebih agresif. Ketika diujicoba pada 56 manusia ternyata sikap yang timbul hampir sama.

Para responden yang terlibat dalam penelitian ini diminta menghirup hormon oksitoksin sebelum mereka bermain game yang memang didesain untuk menimbulkan rasa persaingan. Ternyata responden yang menghirup oksitoksin mengaku mereka merasa lebih serakah dan iri pada lawan mainnya. Namun saat game tersebut usai, perasaan negatif tersebut juga hilang.

"Kami melakukan eksperimen tentang oksitoksin ini untuk menguji apakah hormon ini bisa dipakai untuk terapi berbagai gangguan, seperti autisme," kata Dr.Shamay yang hasil penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal Biological Psychiatry.