Sabtu, 20 Maret 2010

Penggunaan Alkohol Lebih Buruk Ketimbang Narkotika

 

KOMPAS.com - Penyalahgunaan alkohol menjadi masalah yang lebih besar bagi masyarakat Pasifik dibandingkan dengan narkotika, demikian laporan Australia, yang mengaitkan minum dengan kekerasan dalam rumah tangga dan masalah luas kesehatan.

Survei Burnet Institute, yang dipimpin oleh Australian National Council on Drugs, mendapati bahwa alkohol adalah bagian utama keprihatinan di Pasifik, yang sebagian masyarakat terpencilnya termasuk di antara yang paling miskin di dunia.

"Itu dengan jelas mengidentifikasi alkohol sebagai bahan utama keprihatinan di wilayah Pasifik dan memperlihatkan kanabis adalah obat terlarang utama yang paling memprihatinkan di wilayah itu," kata penulis bersama studi tersebut, Robert Power, pekan ini.

"Ini adalah untuk pertama kali kami memperoleh gambaran yang jauh lebih jelas mengenai bahaya besar yang menyebar di banyak negara yang menjadi tetangga kami. Alkohol dipandang sebagai faktor utama penyumbang bagi sejumlah masalah kesehatan yang menyerang rakyat di Pasifik," katanya.

Laporan itu menyeru pembuat minuman di Australia dan Selandia Baru, yang produk mereka digunakan secara luas di Pasifik, agar membantu menghapuskan masalah tersebut. Rekomendasi meliputi penyediaan program perawatan dan peningkatan pengumpulan data.

"Kami menyaksikan terus-menerus bahaya jelas yang ditimbulkan oleh alkohol bagi masyarakat Australia," kata John Herron, pemimpin dewan Australia.

"Peningkatan masalah yang berkaitan dengan alkohol dan pontesi peningkatannya di Pasifik sangat besar --terutama jika kita tak bertindak sekarang," katanya.

Ibu Menyusui Lebih Langsing

Tak sekedar membuat bayi lebih sehat, ibu menyusui juga mendapat banyak manfaat, salah satunya adalah lebih cepat membuang kelebihan berat badan. Manfaat ini bahkan akan terus didapat di kemudian hari.

Dalam sebuah studi yang dipresentasikan dalam pertemuan American Heart Association, para peneliti menjelaskan, wanita yang memberi ASI secara konsisten pada bayinya memiliki lingkar pinggang yang lebih kecil dibanding ibu yang tidak menyusui. Perbedaan paling tampak adalah timbunan lemak di perut yang lebih sedikit.

"Lemak di perut adalah tempat lemak tubuh disimpan. Dengan menyusui, timbunan lemak di tempat itu tampaknya menjadi target untuk dibuang," kata ketua peneliti Candace McClure dari University of Pittsburgh.

Dibanding manfaat menyusui untuk bayi, manfaat menyusui bagi para ibu memang jarang dikupas. Padahal, ada sederet manfaat yang bisa diraih ibu menyusui. Menurut penelitian, ibu yang menyusui risikonya lebih rendah untuk menderita diabetes tipe 2, kanker payudara, kanker ovarium dan depresi pasca persalinan.



Penelitian juga menunjukkan ibu yang memberikan ASI pada bayinya jarang terkena penyakit jantung. Para ahli meyakini, hal ini terjadi karena ibu menyusui membakar kalori lebih cepat. Selain itu timbunan lemak di perutnya juga lebih sedikit dibanding yang tidak menyusui. Timbunan lemak di perut diketahui menjadi faktor dalam penyakit jantung.

Yang menarik, menurut hasil penelitian McClure, ibu yang memberikan ASI juga tetap langsing hingga berpuluh tahun kemudian. Hal ini tentu menjadi kabar gembira bagi para ibu yang ingin kembali langsing setelah melahirkan dengan cara yang sehat.
Meski demikian, para ahli mengingatkan, bahwa langsing tidaknya seorang ibu juga tergantung pada gaya hidup yang dijalaninya. Bila Anda melakukan diet seimbang dan melakukan olahraga secara teratur, ditambah pemberian ASI secara konsisten, bukan tidak mungkin Anda akan mendapatkan manfaat ganda, tubuh bugar dan nyaman, serta terbebas dari penyakit jantung.

Mau Bayi Laki-Laki? Pilih Lemak dan Sarapan!

 

KOMPAS.com - Apa yang dikonsumsi para calon ibu pada masa awal kehamilannya ternyata memengaruhi jenis kelamin serta kualitas kesehatan dari bayi yang akan  mereka lahirkan.

Suatu riset terbaru menyimpulkan, wanita yang rutin sarapan pagi dan mengonsumsi diet tinggi lemak pada masa konsepsi (pembuahan) cenderung akan melahirkan bayi laki-laki. Sedangkan para wanita yang menerapkan diet rendah lemak cenderung melahirkan bayi perempuan.

Temuan ini sepertinya membenarkan apa yang diyakini para wanita jaman dulu dengan anjuran "makanlah daging kalau ingin punya anak laki-laki".

"Diet tinggi kalori secara umum cenderung berpihak pada kelahiran anak laki-laki ketimbang perempuan, sedangkan diet rendah kalori justru sebaliknya. Pada riset manusia dan tikus, pembatasan makanan dan diet suboptimal selama konsepsi dan awal kehamilan juga menghasilkan banyak anak perempuan. Kemungkinan besar ini dikarenakan kekalahan seleksi dari fetus laki-laki, sebagai jenis kelamin paling rentan dalam rahim," ungkap Dr Cheryl Rosenfeld, peneliti dari University of Missouri.

Untuk sampai pada kesimpulannya, peneliti melakukan analisa gen pada plasenta tikus hamil di laboratorium. Tikus-tikus diberikan jenis diet berbeda yakni diet tinggi lemak atau karbohidrat, dan diet rendah kalori. Setiap kelompok ini menunjukkan efek dan ciri yang khusus dibanding kelompok lain yang diberi makanan yang bersumber dari kacang kedelai.

Selain terhadap perubahan kelamin, fetus perempuan pun cenderung lebih sensitif pada jenis diet ibunya, dan terdapat gen-gen yang cenderung lebih mudah terpengaruh atau terganggu. Setelah 12 hari  – atau hanya setengah dari masa kehamilan tikus – peneliti menemukan perbedaan pada hampir 2.000 gen termasuk yang mempengaruhi pembentukan fungsi ginjal dan indra penciuman.

Peneliti menyimpulkan, ekspresi gen pada plasenta tikus bersifat adaptif dan dibentuk oleh pola diet selama hamil, dengan efek terbesar dialami oleh plasenta dari janin perempuan.

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences  ini merupakan studi lanjutan dua tahun lalu yang menemukan bahwa diet para ibu selama masa konsepsi dapat mempengaruhi jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan.

Diet tinggi kalori dan sarapan rutin pada studi ini diduga dapat meningkatkan peluang anak laki-laki, sedangkan para ibu dengan asupan energi yang yang lebih rendah cenderung akan melairkan bayi perempuan. Hasi riset juga menunjukkan, asupan kalori yang tinggi pada masa konsepsi dapat meningkatkan peluang mendapatkan bayi laki-laki dari 10 hingga 11 dari setiap 20 kelahiran.

Anak laki-laki dan anak perempuan juga memiliki risiko penyakit yang berbeda  pada saat mereka tumbuh dewasa, Dan tampaknya ini juga berhubungan dengan diet yang dijalani ibu mereka atau pun  kondisi tubuh pada saat hamil.

Misalnya, anak laki-laki dari ibu yang gemuk cenderung rentan mengalami obesitas dan mudah terserang penyakit diabetes ketimbang anak perempuan ketika mereka dewasa, meskipun tidak ada perbedaan berat badan saat mereka dilahirkan.

"Alasan mengapa diet tinggi lemak rendah  karbohidrat berpihak pada kelahiran anak laki-laki, dan diet rendah lemak tinggi karbohidrat menghasilkan lebih banyak anak perempuan terus mengalihkan pemahaman kami.  Pengaruhnya adalah lebih banyak perempuan cenderung makan belebih untuk punya anak laki-laki. Perempuan punya anak laki-laki juga cenderung mengonsumsi nutrisi yang lebih banyak dan beragam seperti potassium, kalsium dan vitamin C, E dan B12. Mereka juga cednerung sarapan dengan sereal."

Makanan untuk Kesehatan Mental


JAKARTA, KOMPAS.com - Penelitian oleh Mental Health Foundation and Sustain di Inggris menemukan hubungan antara pola makan buruk dengan gangguan kesehatan mental khusus seperti ADHD, demensia, depresi, dan skizofrenia.

Laporan itu juga mencatat bahwa masyarakat Inggris sekarang mengonsumsi lebih sedikit makanan segar dan bergizi. Sebaliknya, mereka mengonsumsi lebih banyak lemak dan gula dibanding 50 tahun silam.

Supaya mental Anda tetap sehat, asuplah gizi penting berikut:
1.    Zinc
Terdapat pada gandum, kacang polong, daging, dan susu.

2.    Magnesium
Mudah dijumpai pada sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, dan gandum.

3.    Zat besi
Dalam jumlah banyak, ada pada daging merah, telur, sayuran berdaun hijau.

4.    Folat
Terdapat pada sayuran berdaun hijau.

5.    Vitamin B
Terdapat pada produk gandum dan produk susu.

6.    Antioksidan
Terdapat pada sejumlah besar sayuran dan buah-buahan.

7.    Asam lemak omega 3
Sumber terbanyak adalah ikan laut dalam.

Tanda-tanda Stres pada Kulit


KOMPAS.com — Orang urban biasanya tidak begitu menghargai relaksasi karena kita sering merasa bersalah apabila tidak produktif. Padahal, membiarkan ketegangan berkepanjangan akan mempercepat kerja seluruh sistem Anda dan menghasilkan kondisi-kondisi yang bisa membuat orang muda mengalami gejala khas orang lanjut usia.



Kebanyakan dari kita akan mengelak jika disebut stres. Mulut mungkin bisa mengingkarinya, tapi tidak demikian dengan kulit Anda. Untuk memeriksa tingkat stres Anda, simaklah tanda-tanda yang dinyatakan oleh kulit.



1. Kulit kering

"Stres yang kronis akan meningkatkan kadar hormon kortisol yang bisa merusak kemampuan kulit menahan air," kata Peter Elias, MD, ahli kulit dari University of California, Amerika Serikat. Akibatnya, kulit akan kehilangan kelembabannya dan menjadi kusam.



2. Kerutan halus

Kortisol, si hormon stres, juga akan meningkatkan kadar gula darah yang bisa merusak kolagen dan elastin, protein serat yang membuat kulit kenyal dan lembut. Ketegangan otot di wajah karena stres juga bisa membuat kerut-kerut menetap.



3. Kemerahan

Meningkatkan sirkulasi darah yang terjadi ketika kita sedang berada dalam tekanan bisa memperlebar pembuluh kapiler. Stres juga akan memicu rona kemerahan yang disebut rosacea. Dan, karena stres akan melemahkan sistem imun, semburat kemerahan di wajah ini mungkin akan menetap cukup lama.



4. Jerawat

Jerawat adalah gangguan kulit yang ditandai dengan tumbuhnya bintil-bintil kecil akibat tersumbatnya pori-pori kulit. Jerawat terjadi ketika folikel rambut pada kulit mengalami penyumbatan. Stres juga akan meningkatkan peradangan yang menyebabkan folikel rambut tersumbat.



5. Mata lelah

Kecemasan akan menghasilkan reaksi berantai; membuat mata sulit terpejam pada waktu malam dan menyebabkan mata bengkak sehingga esoknya penampilan wajah Anda terganggu oleh mata yang terlihat lelah dan kuyu.