Ada anggapan, timbunan lemak akan menumpuk jika Anda tidur tak lama setelah makan. Mitos ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, faktor kegemukan bisa dipengaruhi oleh gen, terlalu banyaknya makanan tanpa aktivitas dan akibat gaya hidup buruk.
Faktor-faktor inilah yang mengendalikan berat badan dengan membuat keseimbangan antara asupan energi (makanan dan minuman) yang dikonsumsi dan energi yang dibakar.
Seperti dikutip dari laman softpedia.com, energi dibakar dalam tiga cara. Yakni, energi untuk beraktivitas, mepertahankan suhu tubuh dan membantu tubuh menjalani proses pencernaan.
Dari penelitian ini pun diketahui, seseorang yang melakukan diet membutuhkan energi minimal 10 persen sebagai cadangan untuk melakukan aktivitas fisik. Sementara orang-orang yang aktif dan gemar berolahraga rata-rata menyerap lebih dari 90 persen dari energi tubuh untuk melakukan kegiatan fisik.
Asupan energi yang diperlukan bervariasi dengan usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Pria antara usia 19 dan 50 tahun membutuhkan 3.000 kkal (kilokalori) per hari, sedangkan pria diusia 76 tahun ke atas membutuhkan 2.000 kkal per hari. Sementara bagi wanita, di usia 19-50 tahun butuh 2.400 kkal dan wanita di usia 76 tahun keatas butuh 1.600 kkal.
Ketika memiliki keseimbangan tubuh positif, maka tubuh Anda akan menyimpan kelebihan energi yang diperoleh dari lemak, karbohidrat, protein dan bahkan alkohol sebagai lemak. Sementara istirahat merupakan waktu tubuh untuk melakukan metabolisme untuk menghasilkan energi untuk membantu kerja detak jantung, bernapas, fungsi ginjal, fungsi otak dan pencernaan.
Tentu saja, lebih atau kurangnya asupan makanan atau hasil pengeluaran energi bisa berpengaruh pada berat badan. Namun, jika mampu mengelola kegiatan makan dan istirahat yang cukup, Anda pun bisa mendapatkan berat badan ideal. Begitu pula sebaliknya, timbunan lemak akan bertambah, jika kegiatan makan Anda tidak diimbangi dengan aktivitas yang seimbang.
Proses berat tubuh bisa terjadi karena jumlah makanan yang masuk dan keluar tidak seimbang. Namun, prosesnya memakan waktu hanya dalam hitungan minggu.
Banyak orang beranggapan, bermain game bisa membakar lebih banyak lemak daripada melakukan tidur siang. Tapi ingat, tidur siang bukan berarti bisa menambah berat badan. Yang penting, waktu tidur Anda tidak melebihi waktu Anda beraktivitas.
Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan, seseorang yang tidak mendapatkan tidur cukup justru lebih rentan terhadap kenaikan berat badan daripada mereka yang cukup tidur.
VIVAnews.com
kumpulan berita surat kabar tentang musik,pria,wanita,gaya hidup,makanan sehat,seputar kesehatan seks
Tampilkan postingan dengan label Gemuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gemuk. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Maret 2010
Kamis, 25 Maret 2010
Sagu, Cocok buat yang Ogah Gemuk
KOMPAS.com — Sagu (pati sagu) adalah salah satu makanan pokok beberapa daerah di Indonesia timur (Papua, Maluku, Sulawesi Utara, dan sejumlah daerah di Nusa Tenggara). Konsumsi sagu sebagai makanan pokok antara lain dalam bentuk makanan tradisional, seperti papeda, kapurung, dan sagu bakar.
Saat ini, sekitar 30 persen masyarakat Maluku dan Papua masih menggunakan sagu sebagai makanan pokok dalam menu sehari-harinya, 50 persen menggunakan menu sagu dan umbi-umbian, sedangkan sisanya, terutama yang berada di daerah perkotaan, sudah beralih ke beras.
Banyak jenis tanaman sagu yang dapat menghasilkan tepung sagu dan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, di antaranya Kepulauan Maluku, Papua, Mentawai, Riau, dan Sumatera. Di Riau juga dijumpai sagu yang dikonsumsi masyarakat dalam bentuk butiran yang dikenal dengan nama sagu rendang serta dalam bentuk olahan lain, seperti kue bangkit, laksa sagu, dan sagu embel.
Selain sebagai makanan pokok, sagu mempunyai prospek yang baik sebagai salah satu sumber utama pangan murah. Pengembangan produk baru dengan komponen utama sagu yang sesuai dengan selera masyarakat diharapkan dapat menjadi pangan sumber karbohidrat siap konsumsi, seperti tepung kering dan mi, sehingga dapat membantu upaya percepatan penganekaragaman pangan yang sedang kita galakkan.
Manfaat dan keunggulan bila kita mengonsumsi aneka makanan yang berasal dari sagu, baik dalam bentuk snack maupun olahan yang berasal dari mi sagu, antara lain:
* Dapat memberikan efek mengenyangkan, tetapi tidak menyebabkan gemuk.
* Mencegah sembelit dan dapat mencegah risiko kanker usus.
* Tidak cepat meningkatkan kadar glukosa dalam darah (indeks glikemik rendah) sehingga dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus.
Produk ini dapat disebarluaskan kepada masyarakat baik dalam bentuk tepung atau pun yang sudah menjadi hasil industri seperti mi. Marilah kita angkat pangan lokal kita dari Indonesia ini sebagai cadangan bahan makanan dalam meningkatkan ketahanan pangan kita.
Saat ini, sekitar 30 persen masyarakat Maluku dan Papua masih menggunakan sagu sebagai makanan pokok dalam menu sehari-harinya, 50 persen menggunakan menu sagu dan umbi-umbian, sedangkan sisanya, terutama yang berada di daerah perkotaan, sudah beralih ke beras.
Banyak jenis tanaman sagu yang dapat menghasilkan tepung sagu dan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, di antaranya Kepulauan Maluku, Papua, Mentawai, Riau, dan Sumatera. Di Riau juga dijumpai sagu yang dikonsumsi masyarakat dalam bentuk butiran yang dikenal dengan nama sagu rendang serta dalam bentuk olahan lain, seperti kue bangkit, laksa sagu, dan sagu embel.
Selain sebagai makanan pokok, sagu mempunyai prospek yang baik sebagai salah satu sumber utama pangan murah. Pengembangan produk baru dengan komponen utama sagu yang sesuai dengan selera masyarakat diharapkan dapat menjadi pangan sumber karbohidrat siap konsumsi, seperti tepung kering dan mi, sehingga dapat membantu upaya percepatan penganekaragaman pangan yang sedang kita galakkan.
Manfaat dan keunggulan bila kita mengonsumsi aneka makanan yang berasal dari sagu, baik dalam bentuk snack maupun olahan yang berasal dari mi sagu, antara lain:
* Dapat memberikan efek mengenyangkan, tetapi tidak menyebabkan gemuk.
* Mencegah sembelit dan dapat mencegah risiko kanker usus.
* Tidak cepat meningkatkan kadar glukosa dalam darah (indeks glikemik rendah) sehingga dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus.
Produk ini dapat disebarluaskan kepada masyarakat baik dalam bentuk tepung atau pun yang sudah menjadi hasil industri seperti mi. Marilah kita angkat pangan lokal kita dari Indonesia ini sebagai cadangan bahan makanan dalam meningkatkan ketahanan pangan kita.
Rabu, 24 Maret 2010
Laki-laki Tak Suka Perempuan Kurus dan Gemuk
VIVAnews - Sebuah pertanyaan, kira-kira laki-laki akan memilih perempuan dengan berat badan normal, kurus, atau gendut?
Sejumlah peneliti dari University of St Andrews, Skotlandia, menguji pertanyaan ini melalui penelitian. Saat sekelompok mahasiswa diundang, 84 mahasiswa perempuan ditanya tentang kesehatan mereka. Setelah mereka mengukur tekanan darah, lalu mereka difoto.
Kemudian, sejumlah laki-laki diperlihatkan foto-foto itu dan diminta untuk menilainya. Hasilnya, mayoritas laki-laki muda itu lebih suka murid perempuan dengan berat badan normal. Dalam studi ini, siswa perempuan dengan berat badan normal sehat dinilai tertinggi untuk daya tarik laki-laki.
Dari hasil studi ini bisa menjadikan acuan bagi para perempuan, tubuh ramping bisa meningkatkan kepercayaan diri. Apalagi bagi Anda yang sedang memburu pria untuk dijadikan pasangan.
Hal ini harus menjadi pertimbangan perempuan muda. Para perempuan harus percaya mereka bisa mendapatkan tubuh dengan berat badan ideal. “Mereka harus mendapatkan tubuh lebih ramping agar menjadi menarik,” katanya.
Para peneliti ini berharap para perempuan percaya dengan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para pria berusia antara 18 dan 26 tahun ini. Dari hasil penelitiannya, sebagian besar tertarik pada perempuan dengan berat badan normal, daripada model-model peran kurus seperti Paris Hilton atau Nicole Richie.
hadi.suprapto@vivanews.com
Sejumlah peneliti dari University of St Andrews, Skotlandia, menguji pertanyaan ini melalui penelitian. Saat sekelompok mahasiswa diundang, 84 mahasiswa perempuan ditanya tentang kesehatan mereka. Setelah mereka mengukur tekanan darah, lalu mereka difoto.
Kemudian, sejumlah laki-laki diperlihatkan foto-foto itu dan diminta untuk menilainya. Hasilnya, mayoritas laki-laki muda itu lebih suka murid perempuan dengan berat badan normal. Dalam studi ini, siswa perempuan dengan berat badan normal sehat dinilai tertinggi untuk daya tarik laki-laki.
Dari hasil studi ini bisa menjadikan acuan bagi para perempuan, tubuh ramping bisa meningkatkan kepercayaan diri. Apalagi bagi Anda yang sedang memburu pria untuk dijadikan pasangan.
Hal ini harus menjadi pertimbangan perempuan muda. Para perempuan harus percaya mereka bisa mendapatkan tubuh dengan berat badan ideal. “Mereka harus mendapatkan tubuh lebih ramping agar menjadi menarik,” katanya.
Para peneliti ini berharap para perempuan percaya dengan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para pria berusia antara 18 dan 26 tahun ini. Dari hasil penelitiannya, sebagian besar tertarik pada perempuan dengan berat badan normal, daripada model-model peran kurus seperti Paris Hilton atau Nicole Richie.
hadi.suprapto@vivanews.com
Selasa, 23 Maret 2010
Tak Ada Orang Gemuk yang Sehat
KOMPAS.com - Gemuk tak lagi menjadi lambang kemakmuran. Kegemukan atau obesitas justru mengundang pelbagai penyakit yang memperpendek umur. Karena itu sebelum memasuki awal tahun yang baru ini para ahli kembali mengingatkan bahwa obesitas mampu merampas kehidupan. Tak ada orang gemuk yang bisa sehat dalam jangka panjang.
Berdasarkan penelitan selama 30 tahun terhadap 1.800 pria Swedia yang dimulai saat mereka berusia 50 tahun, para peneliti menyimpulkan bahwa orang obesitas tidak memiliki metabolisme yang sehat. Selama periode penelitian ini mereka yang obesitas umumnya meninggal karena penyakit kardiovaskular, seperti stroke atau serangan jantung.
Selain faktor kegemukan, para ahli juga mengukur prevalensi sindrom metabolik, seperti kadar gula darah, hipertensi, trigiliserida, kolesterol, serta lingkar pinggang, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Sebelumnya para pakar berpendapat bahwa risiko penyakit jantung lebih rendah pada orang gemuk yang tidak memiliki sindrom metabolik. Hal ini menyebabkan orang mengelompokkan adanya obesitas yang sehat.
Namun, laporan terbaru menyebutkan, studi tersebut umumnya bukan penelitian jangka panjang karena gangguan kesehatan biasanya baru muncul setelah 15 tahun.
Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Circulation, para peneliti mencatat bahwa risiko penyakit dalam jangka panjang tetap tinggi meski orang gemuk tak memiliki sindrom metabolik.
Kebiasaan menyantap makanan berlemak dan berkalori tinggi yang tidak diimbangi olahraga merupakan gerbang menuju obesitas atau kegemukan yang akan mengundang penyakit. Untuk mengurangi risiko kegemukan, konsumsi makanan sebaiknya dibatasi dan diimbangi dengan olahraga secara teratur.
Berdasarkan penelitan selama 30 tahun terhadap 1.800 pria Swedia yang dimulai saat mereka berusia 50 tahun, para peneliti menyimpulkan bahwa orang obesitas tidak memiliki metabolisme yang sehat. Selama periode penelitian ini mereka yang obesitas umumnya meninggal karena penyakit kardiovaskular, seperti stroke atau serangan jantung.
Selain faktor kegemukan, para ahli juga mengukur prevalensi sindrom metabolik, seperti kadar gula darah, hipertensi, trigiliserida, kolesterol, serta lingkar pinggang, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Sebelumnya para pakar berpendapat bahwa risiko penyakit jantung lebih rendah pada orang gemuk yang tidak memiliki sindrom metabolik. Hal ini menyebabkan orang mengelompokkan adanya obesitas yang sehat.
Namun, laporan terbaru menyebutkan, studi tersebut umumnya bukan penelitian jangka panjang karena gangguan kesehatan biasanya baru muncul setelah 15 tahun.
Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Circulation, para peneliti mencatat bahwa risiko penyakit dalam jangka panjang tetap tinggi meski orang gemuk tak memiliki sindrom metabolik.
Kebiasaan menyantap makanan berlemak dan berkalori tinggi yang tidak diimbangi olahraga merupakan gerbang menuju obesitas atau kegemukan yang akan mengundang penyakit. Untuk mengurangi risiko kegemukan, konsumsi makanan sebaiknya dibatasi dan diimbangi dengan olahraga secara teratur.
Langganan:
Postingan (Atom)