Banyak orang mengatakan, ketika usia kita memasuki 30 tahun, metabolisme semakin menurun. Tentu ada penjelasan ilmiah mengapa hal ini terjadi. Namun naik atau turunnya metabolisme sebenarnya dipengaruhi kebiasaan kita sehari-hari. Ketika berat Anda naik, kemungkinan Anda melakukan banyak hal yang menurunkan metabolisme, dan tidak melakukan cukup banyak latihan untuk meningkatkannya. Berikut yang perlu Anda perhatikan:
Menurunkan metabolisme:
Duduk. Semakin jarang Anda bergerak, semakin sedikit kalori yang dibutuhkan tubuh. Akibatnya, metabolisme Anda akan melambat untuk sementara waktu.
Diet. Mungkin Anda mengira, tidak makan malam membuat tubuh langsing karena tidak ada asupan makanan. Namun mengurangi kalori membuat tubuh Anda melambat, dan mengandalkan lemak (misalnya saat kelaparan). Lebih efektif bila Anda mengurangi hanya 250-300 kalori sehari, karena hal ini mendesak tubuh untuk menyingkirkan lemak tanpa takut Anda tak bisa makan lagi.
Penuaan. Metabolisme menurun sekitar 1 persen setiap dekade, demikian menurut Susan B. Roberts, PhD, dari Energy Metabolism Laboratory di Tufts University, Boston. Berdasarkan itu, setiap tahun setidaknya Anda harus mengurangi 10 kalori dalam sehari untuk memelihara berat badan Anda.Tidak berpengaruh
Kafein. “Kafein meningkatkan detak jantung, yang dapat membantu membakar kalori," ujar Dan Bernadot, PhD, dari Georgia State University di Atlanta. “Tetapi peningkatannya kecil dan cepat berlalu, dan tidak banyak mendongkrak metabolisme."
Meningkatkan metabolisme
Protein. Ingat kan, bagaimana kisah Ade Rai yang setiap hari mengonsumsi 10 butir telur (putih telurnya saja) untuk membentuk tubuhnya? Protein memang membantu membangun otot, dan semakin banyak otot yang Anda miliki, semakin cepat metabolisme Anda. Dari sekian kalori yang Anda konsumsi, usahakan 20-25 persennya adalah protein.
Ngemil. Makan membuat metabolisme meningkat, karena ia harus membakar kalori. Karena itu makan ringan empat atau lima kali sehari lebih baik daripada makan besar dua kali sehari. Makan empat kali bukan berarti makan nasi padang, dilanjutkan dengan mi ayam, empat slice pizza, lalu nasi tongseng kambing, lho. Ingat, yang dimaksud adalah makan ringan dan dengan gizi seimbang.
Latihan kardio. Latihan yang membuat detak jantung meningkat akan mendorong metabolisme saat Anda melakukannya. Anda juga membakar lebih banyak kalori dalam beberapa jam setelah Anda berlatih, termasuk ketika Anda sedang beristirahat. Latihan secara rutin dapat memaksa metabolisme mencegah rasa lemas yang terjadi ketika Anda berdiet, kata Kathy McManus, MS, RD, direktur departemen nutrisi di Brigham and Women’s Hospital di Boston.
Latihan daya tahan. Latihan kekuatan, entah itu menggunakan resistance machine, body weight (seperti push-up atau squat), free weights (semua latihan yang menggunakan dumbbell atau barbel), cables (perpaduan machine weight dan free weight), atau tubing (latihan dengan menggunakan tali), bisa membangun otot. Latihan ini akan membakar kalori sekalipun Anda melakukannya sambil duduk. Dari setiap 450 gram otot yang Anda dapatkan, Anda bisa membakar ekstra 50 kalori per hari. Anda bisa membangun 450 gram otot setiap bulan jika Anda berlatih daya tahan dua-tiga kali seminggu.
kumpulan berita surat kabar tentang musik,pria,wanita,gaya hidup,makanan sehat,seputar kesehatan seks
Tampilkan postingan dengan label Kalori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalori. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Maret 2010
Kamis, 25 Maret 2010
Makan Pelan, Kalori Berkurang
KOMPAS.com - Makan secara perlahan bukan hanya membuat seseorang terlihat lebih sopan tapi juga lebih kurus. Apa pasal? Ini karena mengunyah makanan secara perlahan membuat asupan kalori ke dalam tubuh lebih sedikit.
Berdasarkan riset yang dilakukan selama bertahun-tahun, para ahli menemukan bahwa orang yang makan dengan rakus akan membuat kalori yang masuk lebih banyak dibanding yang makan perlahan. Hal tersebut disebabkan karena hormon dalam proses pencernaan dilepaskan lebih cepat.
Pada studi terbaru yang dilansir bulan lalu, para ahli menemukan bahwa hormon yang membuat perut terasa kenyang baru dilepaskan saat seseorang makan selama 30 menit dibanding yang makan 5 menit. Berdasarkan pemeriksaan darah dan insulin, diketahui bahwa dua hormon pemberi sinyal kenyang, yakni peptide-1 dan peptide YY, merespon lebih cepat dalam kondisi lambat.
Hasil studi tersebut menguatkan studi sebelumnya yang dimuat dalam The Journal of The American Dietetic Association tahun 2008. Dalam laporan tersebut disebutkan, orang yang makan dengan pelan, memiliki asupan kalori 10 persen lebih rendah dibanding orang yang makan cepat.
Penelitian terhadap 3000 orang Inggris yang dimuat dalam The British Medical Journal menunjukkan, orang yang makan dengan cepat beresiko lebih tinggi mengalami kegemukan.
Berdasarkan riset yang dilakukan selama bertahun-tahun, para ahli menemukan bahwa orang yang makan dengan rakus akan membuat kalori yang masuk lebih banyak dibanding yang makan perlahan. Hal tersebut disebabkan karena hormon dalam proses pencernaan dilepaskan lebih cepat.
Pada studi terbaru yang dilansir bulan lalu, para ahli menemukan bahwa hormon yang membuat perut terasa kenyang baru dilepaskan saat seseorang makan selama 30 menit dibanding yang makan 5 menit. Berdasarkan pemeriksaan darah dan insulin, diketahui bahwa dua hormon pemberi sinyal kenyang, yakni peptide-1 dan peptide YY, merespon lebih cepat dalam kondisi lambat.
Hasil studi tersebut menguatkan studi sebelumnya yang dimuat dalam The Journal of The American Dietetic Association tahun 2008. Dalam laporan tersebut disebutkan, orang yang makan dengan pelan, memiliki asupan kalori 10 persen lebih rendah dibanding orang yang makan cepat.
Penelitian terhadap 3000 orang Inggris yang dimuat dalam The British Medical Journal menunjukkan, orang yang makan dengan cepat beresiko lebih tinggi mengalami kegemukan.
Selasa, 23 Maret 2010
Diet Kalori Bikin Awet Muda
KOMPAS.com - Anda tentu sepakat ketika dikatakan pola dan asupan makanan menjadi sumber segala macam penyakit. Akhirnya penyakit menggerogoti tubuh dan bahkan mengurangi umur Anda.
Salah satu faktor berkurangnya masa hidup disebabkan organ tubuh yang mulai rusak. Pengobatan bisa berbagai rupa, namun pencegahan menjadi cara paling efektif untuk menjaga organ tubuh dan memperpanjang usia.
Diet ketat kalori bisa menjadi salah satu caranya. Mengurangi kalori hingga 1.900 kilo kalori tak hanya menurunkan berat badan, namun bisa memperpanjang umur. Hal ini dibuktikan oleh sejumlah orang di Amerika seperti ditayangkan Oprah Winfrey Show edisi "Extreme Life Extension", ditayangkan Metro TV pada Sabtu (20/3/2010) lalu.
Pengacara sukses, Joe (50) dinyatakan sehat secara fisik seperti orang berusia 20 tahun. Rahasianya, Joe menjalani diet ketat kalori dengan hanya mengonsumsi salad buah dan sayuran dalam porsi besar saat makan siang, mengurangi gula, dan makanan dengan kalori tinggi. Bahkan kue ulang tahunnya dibuat tanpa gula dan tepung.
Menurut Joe, motivasi kuat dan tujuan untuk kesehatan tubuh menjadi satu-satunya kekuatan untuk tetap konsisten menjalani diet ketat kalori. Bagaimana pun makanan enak yang belum tentu sehat ada dimana-mana, bukan? Meski merasa tergoda, Joe kembali memotivasi dirinya untuk menghindari makanan enak.
Lantas apa positifnya diet ketat kalori? Joe mengaku, tubuhnya lebih bertenaga, bisa bekerja lebih baik dan yang terpenting tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, semuanya dinyatakan normal dan stabil.
Pengalaman ini diceritakan juga oleh Paul. Dalam usianya kini (60), Paul merasa muda dan bertenaga. Banyak anggapan jika mengurang kalori Anda akan lemas, namun tak terbukti bagi Paul. Karena justru diet ketat kalori membuat tubuhnya lebih bertenaga. Positifnya lagi, penglihatan Paul dalam usia senja masih terjaga baik.
Meskipun demikian, diet ketat kalori punya risiko. Dr Mehmet Oz, narasumber dalam acara tersebut, menjelaskan jika tidak dijalankan dengan tepat dan benar diet ini berisiko seperti kekurangan zat besi dan terkena anemia. Diet yang tidak tepat juga menyebabkan kekurangan kalisum yang akan melemahkan tulang. Karena itu sebaiknya konsultasikan kepada dokter Anda jika ingin menerapkan diet ketat kalori.
Komitmen kuat untuk tetap konsisten menjalani diet, menjadikannya gaya hidup, bukan sekadar program temporer sekadar ingin menurunkan berat badan, menjadi kunci utamanya.
Salah satu faktor berkurangnya masa hidup disebabkan organ tubuh yang mulai rusak. Pengobatan bisa berbagai rupa, namun pencegahan menjadi cara paling efektif untuk menjaga organ tubuh dan memperpanjang usia.
Diet ketat kalori bisa menjadi salah satu caranya. Mengurangi kalori hingga 1.900 kilo kalori tak hanya menurunkan berat badan, namun bisa memperpanjang umur. Hal ini dibuktikan oleh sejumlah orang di Amerika seperti ditayangkan Oprah Winfrey Show edisi "Extreme Life Extension", ditayangkan Metro TV pada Sabtu (20/3/2010) lalu.
Pengacara sukses, Joe (50) dinyatakan sehat secara fisik seperti orang berusia 20 tahun. Rahasianya, Joe menjalani diet ketat kalori dengan hanya mengonsumsi salad buah dan sayuran dalam porsi besar saat makan siang, mengurangi gula, dan makanan dengan kalori tinggi. Bahkan kue ulang tahunnya dibuat tanpa gula dan tepung.
Menurut Joe, motivasi kuat dan tujuan untuk kesehatan tubuh menjadi satu-satunya kekuatan untuk tetap konsisten menjalani diet ketat kalori. Bagaimana pun makanan enak yang belum tentu sehat ada dimana-mana, bukan? Meski merasa tergoda, Joe kembali memotivasi dirinya untuk menghindari makanan enak.
Lantas apa positifnya diet ketat kalori? Joe mengaku, tubuhnya lebih bertenaga, bisa bekerja lebih baik dan yang terpenting tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, semuanya dinyatakan normal dan stabil.
Pengalaman ini diceritakan juga oleh Paul. Dalam usianya kini (60), Paul merasa muda dan bertenaga. Banyak anggapan jika mengurang kalori Anda akan lemas, namun tak terbukti bagi Paul. Karena justru diet ketat kalori membuat tubuhnya lebih bertenaga. Positifnya lagi, penglihatan Paul dalam usia senja masih terjaga baik.
Meskipun demikian, diet ketat kalori punya risiko. Dr Mehmet Oz, narasumber dalam acara tersebut, menjelaskan jika tidak dijalankan dengan tepat dan benar diet ini berisiko seperti kekurangan zat besi dan terkena anemia. Diet yang tidak tepat juga menyebabkan kekurangan kalisum yang akan melemahkan tulang. Karena itu sebaiknya konsultasikan kepada dokter Anda jika ingin menerapkan diet ketat kalori.
Komitmen kuat untuk tetap konsisten menjalani diet, menjadikannya gaya hidup, bukan sekadar program temporer sekadar ingin menurunkan berat badan, menjadi kunci utamanya.
Langganan:
Postingan (Atom)