Tidak semua perokok akan terkena kanker paru meski merokok merupakan faktor risiko terbesar penyakit yang termasuk pembunuh utama di dunia ini. Untuk mengetahui apakah seseorang berisiko terkena kanker paru atau tidak, kini sudah ada metode tes dengan petunjuk perubahan genetik di dalam tenggorokan.
Alat uji ini kini sedang dikembangkan para ilmuwan dari Amerika Serikat. Diharapkan nantinya bisa dideteksi lebih dini risiko seseorang terkena kanker. Makin dini kanker dideteksi, makin besar kemungkinan sembuhnya.
Pertanyaannya kini adalah jika diketahui ada perubahan genetik, yang mana petunjuk adanya kanker, mungkinkah mengembalikan reaksi genetik sebelum berakhir menjadi kanker? Para ilmuwan mengatakan, sebuah percobaan obat menunjukkan hal itu mungkin saja pada sebagian orang.
Dalam risetnya, Dr Avrum Spira dari Boston University School of Medicine menganalisis 129 perokok dan mantan perokok. Ia menemukan gen yang diduga mencetuskan kanker, PI3K. Bila gen tersebut terlalu aktif, sel-sel akan tumbuh terlalu banyak. Kebanyakan studi sebelumnya hanya mengidentifikasi gen ini sebagai tumor.
Spira menemukan aktivasi P13K pada perokok dan mantan perokok yang menderita lesi prakanker, tetapi gen ini tidak ditemukan pada mereka yang sudah didiagnosis kanker paru. Meski belum dipastikan seberapa besar peluang petunjuk genetik ini akan menjadi kanker, namun orang yang dinyatakan bebas dari marker ini diharapkan untuk tetap waspada.
Para ahli mengingatkan, risiko kanker paru pada perokok mencapai 20 persen, tergantung pada seberapa banyak rokok yang dihisap, berapa lama menjadi perokok, dan kapan mereka berhenti merokok. Akan tetapi, belum ada cara untuk memastikan apakah seorang perokok akan bebas dari kanker atau tidak.
"Bahkan risiko terkena kanker paru pada orang yang sudah berhenti merokok masih tinggi. Karena itu tes genetik untuk mengetahui sedini mungkin risiko kanker akan sangat membantu," kata ahli paru dari Duku University, Dr Neal Ready, yang tidak terlibat dalam penelitian.
KOMPAS.com
kumpulan berita surat kabar tentang musik,pria,wanita,gaya hidup,makanan sehat,seputar kesehatan seks
Tampilkan postingan dengan label Risiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risiko. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 April 2010
Sabtu, 27 Maret 2010
Faktor yang Memicu Risiko Osteoporosis
Seperti telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, SEAMEO TROPMED Regional Center for Community Nutrition, Universitas Indonesia, dan University of Otago, Selandia Baru, mendapati bahwa sebagian besar perempuan Indonesia hanya mengonsumsi 270-500 miligram kalsium setiap hari. Padahal kebutuhan kalsium harian perempuan usia 19-50 tahun adalah 1000 miligram. Tidak mengherankan bila dua dari lima perempuan Indonesia berisiko terkena osteoporosis.
Kurangnya kalsium ini diperparah dengan gaya hidup seseorang. Kurang berolahraga, kebiasaan merokok, minum kopi, alkohol, minuman berkola, serta kurang istirahat, dapat menjadi faktor risiko osteoporosis pada diri seseorang. Selain itu, ada faktor-faktor bawaan pada diri seseorang yang dapat memicu osteoporosis, yaitu genetik, suku bangsa, usia, jenis kelamin, menopause, dan tinggi badan.
Jika faktor bawaan ini sifatnya tidak dapat diubah, faktor-faktor yang berkaitan dengan gaya hidup tadi masih dapat diperbaiki. "Olahraga selama 30 menit saja, tiga kali seminggu, itu sudah membantu. Olahraga juga membantu agar kalsium dapat diserap tubuh lebih baik," papar dr Tria Rosemiarti, Medical & PR Manager PT Fonterra Brands Indonesia dalam talk show bersama Anlene One-a-Day di Cilandak Town Square, Sabtu (27/3/2010).
Olahraga yang dilakukan di udara terbuka pada pagi hari akan lebih baik. Paparan sinar matahari pagi akan membuat tubuh memproduksi vitamin D, yang juga membantu penyerapan kalsium dan regenerasi pada tulang.
"Berjemurlah 10 menit saja, antara pukul 06.00 hingga pukul 09.00. Enggak usah pakai losion, dan yang berkerudung bisa melepas kerudungnya sebentar," ujar Soraya Haque, mantan model dan pembawa acara Healthy Life di Metro TV yang turut hadir pada acara tersebut.
Karena osteoporosis merupakan silent disease, alias penyakit yang tidak menunjukkan gejala, Anda tak pernah tahu apakah kondisi tulang Anda sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Karena itu, terapkan kebiasaan baik ini mulai dari sekarang!
Kurangnya kalsium ini diperparah dengan gaya hidup seseorang. Kurang berolahraga, kebiasaan merokok, minum kopi, alkohol, minuman berkola, serta kurang istirahat, dapat menjadi faktor risiko osteoporosis pada diri seseorang. Selain itu, ada faktor-faktor bawaan pada diri seseorang yang dapat memicu osteoporosis, yaitu genetik, suku bangsa, usia, jenis kelamin, menopause, dan tinggi badan.
Jika faktor bawaan ini sifatnya tidak dapat diubah, faktor-faktor yang berkaitan dengan gaya hidup tadi masih dapat diperbaiki. "Olahraga selama 30 menit saja, tiga kali seminggu, itu sudah membantu. Olahraga juga membantu agar kalsium dapat diserap tubuh lebih baik," papar dr Tria Rosemiarti, Medical & PR Manager PT Fonterra Brands Indonesia dalam talk show bersama Anlene One-a-Day di Cilandak Town Square, Sabtu (27/3/2010).
Olahraga yang dilakukan di udara terbuka pada pagi hari akan lebih baik. Paparan sinar matahari pagi akan membuat tubuh memproduksi vitamin D, yang juga membantu penyerapan kalsium dan regenerasi pada tulang.
"Berjemurlah 10 menit saja, antara pukul 06.00 hingga pukul 09.00. Enggak usah pakai losion, dan yang berkerudung bisa melepas kerudungnya sebentar," ujar Soraya Haque, mantan model dan pembawa acara Healthy Life di Metro TV yang turut hadir pada acara tersebut.
Karena osteoporosis merupakan silent disease, alias penyakit yang tidak menunjukkan gejala, Anda tak pernah tahu apakah kondisi tulang Anda sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Karena itu, terapkan kebiasaan baik ini mulai dari sekarang!
Label:
Faktor,
kesehatan,
Memicu,
Osteoporosis,
Risiko,
Risiko Osteoporosis,
yang
Rabu, 24 Maret 2010
Makanan Asin Tingkatkan Risiko Kanker Perut
Kompas.com — Pola makan yang tinggi garam meningkatkan risiko kanker perut hingga 10 persen. Demikian kesimpulan studi yang dilakukan para ahli dari Korea Selatan yang melakukan studi pada lebih dari 2 juta orang.
Kanker perut atau kanker gastric termasuk dalam jenis kanker yang banyak diderita orang di dunia. Beberapa studi telah menemukan kaitan antara makanan yang asin dan timbulnya kanker gastric. Meski mekanisme kejadian kankernya belum jelas, para ahli tetap menyarankan untuk membatasi asupan makanan yang asin untuk menghindari kanker.
Dalam penelitiannya, Jeongseon Kim dan timnya dari National Cancer Center Research Institute meneliti dampak garam pada kejadian kanker gastric pada lebih dari 2 juta orang Korea Selatan berusia 30-80 tahun. Semua responden memberikan informasi mengenai pola makan dan gaya hidupnya. Mereka juga menjalani check up antara 1996 dan 1997.
Menurut data Korea Central Cancer Registry, selama lebih dari 7 tahun, 9.620 pria dan 2.773 wanita menderita kanker perut. Menurut Kim dan timnya, orang yang lebih suka mengonsumsi makanan asin memiliki risiko 10 persen lebih tinggi terkena kanker perut.
Menanggapi hasil studi tersebut, Dr Al B Benson, spesialis kanker gastric dari Chicago, AS, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan, hasil penelitian tersebut tidak menunjukkan kaitan antara makanan asin dan kanker gastric.
Ia mengatakan, bagaimana cara garam dikonsumsi lebih penting. Sebuah studi di Jepang menunjukkan, sodium dalam bentuk garam meja lebih terkait dengan penyakit kardiovaskuler, bukan kanker. Sementara itu, makanan yang asin, misalnya saja ikan yang diproses, justru terkait dengan kanker.
"Yang harus diketahui adalah bagaimana cara penggunaan garam dalam makanan, misalnya saja dibuat acar atau asinan, yang lebih berisiko menimbulkan gangguan kesehatan," kata Benson.
Kendati demikian, ia menyebutkan, pembatasan garam lebih menguntungkan untuk mencegah naiknya tekanan darah.
Kanker perut atau kanker gastric termasuk dalam jenis kanker yang banyak diderita orang di dunia. Beberapa studi telah menemukan kaitan antara makanan yang asin dan timbulnya kanker gastric. Meski mekanisme kejadian kankernya belum jelas, para ahli tetap menyarankan untuk membatasi asupan makanan yang asin untuk menghindari kanker.
Dalam penelitiannya, Jeongseon Kim dan timnya dari National Cancer Center Research Institute meneliti dampak garam pada kejadian kanker gastric pada lebih dari 2 juta orang Korea Selatan berusia 30-80 tahun. Semua responden memberikan informasi mengenai pola makan dan gaya hidupnya. Mereka juga menjalani check up antara 1996 dan 1997.
Menurut data Korea Central Cancer Registry, selama lebih dari 7 tahun, 9.620 pria dan 2.773 wanita menderita kanker perut. Menurut Kim dan timnya, orang yang lebih suka mengonsumsi makanan asin memiliki risiko 10 persen lebih tinggi terkena kanker perut.
Menanggapi hasil studi tersebut, Dr Al B Benson, spesialis kanker gastric dari Chicago, AS, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan, hasil penelitian tersebut tidak menunjukkan kaitan antara makanan asin dan kanker gastric.
Ia mengatakan, bagaimana cara garam dikonsumsi lebih penting. Sebuah studi di Jepang menunjukkan, sodium dalam bentuk garam meja lebih terkait dengan penyakit kardiovaskuler, bukan kanker. Sementara itu, makanan yang asin, misalnya saja ikan yang diproses, justru terkait dengan kanker.
"Yang harus diketahui adalah bagaimana cara penggunaan garam dalam makanan, misalnya saja dibuat acar atau asinan, yang lebih berisiko menimbulkan gangguan kesehatan," kata Benson.
Kendati demikian, ia menyebutkan, pembatasan garam lebih menguntungkan untuk mencegah naiknya tekanan darah.
Selasa, 23 Maret 2010
Flu Meningkatkan Risiko Bayi Skizofrenia
KOMPAS.com - Flu tampaknya memang menjadi penyakit musiman, yang bagi sebagian orang mudah dicegah dan diatasi. Meskipun demikian, hati-hati bila Anda terjangkit flu saat sedang hamil. Penelitian terbaru menemukan bahwa ibu hamil yang terkena flu bisa meningkatkan peluang melahirkan anak yang mengalami skizofrenia.
Skizofrenia adalah suatu kondisi kesehatan mental yang kronis, yang menyebabkan beberapa gejala psikologis yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah berhalusinasi, seperti mendengar atau melihat hal-hal yang tidak ada. Bisa juga mengalami delusi, mempercayai hal-hal yang tidak nyata.
Para peneliti mengamati hubungan antara flu dan skizofrenia dengan melakukan uji laboratorium pada monyet. Monyet yang sedang hamil ditularkan dengan flu, lalu bayi-bayi monyet itu menjalani scanning MRI ketika usianya satu tahun. Hasilnya menunjukkan tanda-tanda skizofrenia.
Pemimpin studi ini, Dr Sarah Short dari University of Wisconsin, mengatakan perlunya kewaspadaan ibu hamil demi kesehatan bayi yang di dalam kandungan. "Ibu hamil seharusnya mendapatkan suntikan (anti) flu sebelum mereka mulai sakit. Ini sebenarnya infeksi flu yang relatif ringan, tapi mempunyai efek yang signifikan terhadap otak bayi."
Normalnya, lanjut Short, risiko tersebut mempengaruhi sekitar satu dari setiap 100 kelahiran. Sedangkan berdasarkan tudi yang dilakukan terhadap manusia, terlihat bahwa risiko bayi yang terkena skizofrenia akibat terekspos flu menjadi dua atau tiga dari 100 kelahiran.
Studi yang dipublikasikan secara online oleh jurnal Biological Psychiatry ini merupakan studi pertama mengenai subjek ini.
Skizofrenia adalah suatu kondisi kesehatan mental yang kronis, yang menyebabkan beberapa gejala psikologis yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah berhalusinasi, seperti mendengar atau melihat hal-hal yang tidak ada. Bisa juga mengalami delusi, mempercayai hal-hal yang tidak nyata.
Para peneliti mengamati hubungan antara flu dan skizofrenia dengan melakukan uji laboratorium pada monyet. Monyet yang sedang hamil ditularkan dengan flu, lalu bayi-bayi monyet itu menjalani scanning MRI ketika usianya satu tahun. Hasilnya menunjukkan tanda-tanda skizofrenia.
Pemimpin studi ini, Dr Sarah Short dari University of Wisconsin, mengatakan perlunya kewaspadaan ibu hamil demi kesehatan bayi yang di dalam kandungan. "Ibu hamil seharusnya mendapatkan suntikan (anti) flu sebelum mereka mulai sakit. Ini sebenarnya infeksi flu yang relatif ringan, tapi mempunyai efek yang signifikan terhadap otak bayi."
Normalnya, lanjut Short, risiko tersebut mempengaruhi sekitar satu dari setiap 100 kelahiran. Sedangkan berdasarkan tudi yang dilakukan terhadap manusia, terlihat bahwa risiko bayi yang terkena skizofrenia akibat terekspos flu menjadi dua atau tiga dari 100 kelahiran.
Studi yang dipublikasikan secara online oleh jurnal Biological Psychiatry ini merupakan studi pertama mengenai subjek ini.
Label:
Bayi,
Flu,
kesehatan,
Meningkatkan,
Risiko,
Skizofrenia
Langganan:
Postingan (Atom)