Setelah makan, banyak orang yang memiliki kebiasaan tertentu. Seperti merokok, makan buah atau minum teh. Mungkin hal itu dianggap biasa. Tetapi ternyata kebiasaan tersebut sebaiknya tidak dilakukan langsung setelah makan.
Berikut tujuh hal yang sebaiknya jangan Anda lakukan setelah makan, yang dikutip dari www.timeidol.com. Dan, pakar kesehatan Philip S. Chua, dokter bedah jantung dari Indiana, AS, akan memberikan alasannya.
1. Merokok
Penelitian menunjukkan, merokok satu batang setelah makan efeknya sama dengan merokok sepuluh batang rokok. Risiko terkena kanker menjadi lebih besar.
2. Langsung makan buah
Setelah selesai makan, sebaiknya jangan langsung makan buah, terutama bagi penderita gangguan pencernaan. Jika Anda sering mengalami gangguan lambung, makan buah setelah makan bisa menyebabkan perut terasa kembung dan penuh dengan udara. Maka itu, ada baiknya menunggu satu hingga dua jam, setelah makan, jika ingin mengonsumsi buah.
3. Minum tehTeh mengandung kadar asam yang tinggi. Bagi penderita asam lambung, kandungan ini dapat meningkatkan asam lambung. Namun, bagi Anda yang kondisi lambungnya normal, teh justru bisa membuat makanan lebih mudah dicerna.
4. Melonggarkan ikat pinggangMelonggarkan ikat pinggang langsung setelah makan, bisa membuat Anda makan lebih banyak. Akibatnya, bisa membuat bobot tubuh makin melambung.
5. BerjalanBerjalan langsung setelah makan, membuat sistem pencernaan tidak bisa menyerap nutrisi dari makanan yang dikonsumsi. Namun, jika Anda ingin membakar kalori, tunggulah 30 menit hingga satu jam setelah makan.
6. MandiMandi bisa meningkatkan aliran darah ke tangan, kaki dan tubuh. Hal itu menyebabkan aliran darah ke perut akan menurun dan mengurangi kerja sistem pencernaan.
7. TidurJangan langsung tidur setelah makan, meskipun Anda merasakan kantuk. Kebiasaan ini bisa memicu gangguan pencernaan.
VIVAnews.com
kumpulan berita surat kabar tentang musik,pria,wanita,gaya hidup,makanan sehat,seputar kesehatan seks
Tampilkan postingan dengan label Hal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hal. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Maret 2010
Sabtu, 27 Maret 2010
5 Hal yang Mempengaruhi Kesehatan Rambut
Banyak hal yang membuat rambut kita jadi rusak. Misalnya, terlalu sering melakukan blow dry. Atau, sering mencatnya tapi tak pernah melakukan perawatan seperti creambath atau hair spa. Rambut pun menjadi kering, bercabang, lalu rontok.
Di luar "aksi perusakan" rambut yang terjadi atas kehendak kita sendiri, sebenarnya ada faktor lain yang mempengaruhi kondisi rambut.
1. Pengobatan
Katanya sih, normal saja kalau jumlah rambut kita yang rontok mencapai 100 helai sehari (dari yang rontok saat keramas dan saat menyisir rambut). Jika tiba-tiba kerontokan terjadi lebih parah padahal Anda sedang tidak mengalami perubahan mood, coba cek apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan.
Progesteron, hormon yang terdapat pada beberapa jenis alat kontrasepsi, begitu juga dengan berbagai bentuk vitamin A (seperti yang digunakan pada obat jerawat), dapat mematikan folikel dan memicu kerontokan rambut. Jenis pengobatan lain yang juga dapat memicu kerontokan rambut adalah obat antidepresi dan obat untuk mengatasi rasa mulas. Anda perlu bertanya pada dokter apakah Anda perlu mencoba jenis kontrasepsi yang lain, atau apakah ada masalah kesehatan lain yang jadi penyebabnya (masalah thyroid, misalnya).
2. Hormon
Ketika usia kita 20 atau 30 tahunan, rambut sedang tebal-tebalnya. Dalam tahun-tahun ini (dan selama kehamilan), 70-90 persen rambut berada dalam masa pertumbuhan. Saat memasuki usia 40 tahun, proporsi rambut dalam siklus ini menurun hingga 30 persen.
Tingkat estrogen yang tinggi dapat memberikan manfaat tambahan: kulit lembab dan rambut berkilau. Estrogen membloking produk sampingan testosteron (dihydrotestosterone) yang mungkin menyebabkan kebotakan, demikian menurut Walter Futterweit, MD, profesor klinis bidang endokrinologi di Mount Sinai School of Medicine, New York City.
3. Stres
Hormon stres yang peka rangsangan ada di sekitar folikel rambut. Artinya, selain mengacaukan mood, hormon ini juga bisa merusak rambut. "Stres bisa meningkatkan kerontokan, sehingga membuat rambut menipis," kata Antonella Tosti, MD, profesor dermatologi di University of Bologna, Italia.
Menurunkan ketegangan seperti ini biasanya akan menghidupkan kembali folikel rambut dalam waktu sekitar empat bulan. Untuk menenangkan pikiran dan rambut, sisihkan waktu setiap hari untuk rileks, atau bermain bersama anak-anak.
4. Genetik
Menurut Amy Cheng, MD, ahli dermatologi di Virginia Mason Medical Center, Seattle, DNA bisa mengontrol ketebalan rambut, kapan rambut mulai beruban, dan kemungkinan, kapan terkena polusi dan stres. Studi dari University of Bradford, Inggris, mendapati bahwa kerusakan oksidatif dapat menyebabkan rambut beruban dengan memicu penumpukan hydrogen peroxide pada folikel, sehingga menyumbat pembentukan pigmen. Untuk mengatasi uban, Anda bisa mencat rambut. Pulas pada bagian akarnya saja, bukan seluruh rambut.
5. Asupan makanan
Pilih makanan yang mampu menyehatkan rambut. Protein adalah fondasi dari setiap helai rambut, dan merupakan 95 persen dari berat rambut. Seng (yang terdapat dalam daging dan kacang-kacangan) mendukung minyak alami yang menciptakan kilau pada rambut. Segala bentuk vitamin B (biotin, B6, dan B12) mendukung pertumbuhan sel baru di dalam folikel rambut. Yang terpenting dari semuanya adalah zat besi, yang memudahkan akivitas enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan rambut.
KOMPAS.com
Di luar "aksi perusakan" rambut yang terjadi atas kehendak kita sendiri, sebenarnya ada faktor lain yang mempengaruhi kondisi rambut.
1. Pengobatan
Katanya sih, normal saja kalau jumlah rambut kita yang rontok mencapai 100 helai sehari (dari yang rontok saat keramas dan saat menyisir rambut). Jika tiba-tiba kerontokan terjadi lebih parah padahal Anda sedang tidak mengalami perubahan mood, coba cek apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan.
Progesteron, hormon yang terdapat pada beberapa jenis alat kontrasepsi, begitu juga dengan berbagai bentuk vitamin A (seperti yang digunakan pada obat jerawat), dapat mematikan folikel dan memicu kerontokan rambut. Jenis pengobatan lain yang juga dapat memicu kerontokan rambut adalah obat antidepresi dan obat untuk mengatasi rasa mulas. Anda perlu bertanya pada dokter apakah Anda perlu mencoba jenis kontrasepsi yang lain, atau apakah ada masalah kesehatan lain yang jadi penyebabnya (masalah thyroid, misalnya).
2. Hormon
Ketika usia kita 20 atau 30 tahunan, rambut sedang tebal-tebalnya. Dalam tahun-tahun ini (dan selama kehamilan), 70-90 persen rambut berada dalam masa pertumbuhan. Saat memasuki usia 40 tahun, proporsi rambut dalam siklus ini menurun hingga 30 persen.
Tingkat estrogen yang tinggi dapat memberikan manfaat tambahan: kulit lembab dan rambut berkilau. Estrogen membloking produk sampingan testosteron (dihydrotestosterone) yang mungkin menyebabkan kebotakan, demikian menurut Walter Futterweit, MD, profesor klinis bidang endokrinologi di Mount Sinai School of Medicine, New York City.
3. Stres
Hormon stres yang peka rangsangan ada di sekitar folikel rambut. Artinya, selain mengacaukan mood, hormon ini juga bisa merusak rambut. "Stres bisa meningkatkan kerontokan, sehingga membuat rambut menipis," kata Antonella Tosti, MD, profesor dermatologi di University of Bologna, Italia.
Menurunkan ketegangan seperti ini biasanya akan menghidupkan kembali folikel rambut dalam waktu sekitar empat bulan. Untuk menenangkan pikiran dan rambut, sisihkan waktu setiap hari untuk rileks, atau bermain bersama anak-anak.
4. Genetik
Menurut Amy Cheng, MD, ahli dermatologi di Virginia Mason Medical Center, Seattle, DNA bisa mengontrol ketebalan rambut, kapan rambut mulai beruban, dan kemungkinan, kapan terkena polusi dan stres. Studi dari University of Bradford, Inggris, mendapati bahwa kerusakan oksidatif dapat menyebabkan rambut beruban dengan memicu penumpukan hydrogen peroxide pada folikel, sehingga menyumbat pembentukan pigmen. Untuk mengatasi uban, Anda bisa mencat rambut. Pulas pada bagian akarnya saja, bukan seluruh rambut.
5. Asupan makanan
Pilih makanan yang mampu menyehatkan rambut. Protein adalah fondasi dari setiap helai rambut, dan merupakan 95 persen dari berat rambut. Seng (yang terdapat dalam daging dan kacang-kacangan) mendukung minyak alami yang menciptakan kilau pada rambut. Segala bentuk vitamin B (biotin, B6, dan B12) mendukung pertumbuhan sel baru di dalam folikel rambut. Yang terpenting dari semuanya adalah zat besi, yang memudahkan akivitas enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan rambut.
KOMPAS.com
Label:
5,
Hal,
kesehatan,
Kesehatan Rambut,
Mempengaruhi,
Rambut,
yang
Langganan:
Postingan (Atom)