Ingin kualitas hubungan seksual atau 'ML' Anda meningkat dan menjadi luar biasa? Gampang saja. Anda hanya melakukan empat gerakan yoga dengan teratur.
The Journal of Sexual Medicine dalam artikelnya menyatakan bahwa Anda bisa mendapatkan kepuasan seksual dengan orgasme luar biasa, jika melakukan yoga dengan teratur. Pernyataan ini meluruskan anggapan bahwa hal itu sudah ada sejak abad 4-6 Masehi.
Menurut praktisi medis, yoga mampu menangani masalah ejakulasi dini pada lelaki. Penulis Lori A. Brotto dari University of British Columbia, Michael Krychman dari The Southern California Center for Sexual Health and Survivorship Medicine, dan Pamela Jacobson dari The Healing Sanctuary Tustin California dan para ahli seksologi lainnya menjaminnya.
"Ingin kualitas seks Anda meningkatkan? Lakukanlah Yoga," kata Ellen Barret, penulis buku Sexy Yoga.
Ellen menjelaskan sejumlah gerakan yoga selain mampu melepaskan tubuh dari stres, juga mampu menjaga fleksibilitas tubuh. Aliran darah pun lancar mengalir di seluruh tubuh. Aliran darah inilah yang Anda butuhkan untuk menghangatkan hubungan percintaan.
Ellen pun menyarankan untuk melakukan empat gaya yoga. Jaminannya, kualitas hubungan seksual akan menjadi luar biasa.
Pemanasan Atas Bawah
Anda cukup berada dalam posisi berlutut. Letakkan kedua tangan di depan dengkul. Luruskanlah kepala menghadap depan. Tariklah napas, lalu perlahan turunkan pinggul ke bawah hingga dada terdorong maju, Anda harus ingat, saat melakukan gerakan ini, pastikan tulang ekor mengarah ke atas. Anda lalu cukup menghembuskan napas, angkat punggung ke atas perlahan-lahan. Biarkan perut berkontraksi. Pastikan saat gerakan ini, kepala menghadap bawah. Setelahnya kembali ke posisi awal.
Lakukan gerakan ini enam kali. Manfaatnya untuk menguatkan otot-otot kegel.
Soal ini Barret dan para pakar yoga menjelaskan, otot-otot kegel adalah otot yang berkontraksi saat kita orgasme.
Ular Kobra
Rebahkan tubuh Anda menghadap lantai. Biarkan kedua kaki lurus dan perut menyentuh lantai. Luruskan kedua tangan sehingga kuat menyangga tubuh bagian atas. Angkat perlahan tubuh bagian atas sambil meluruskan ujung kaki hingga menyentuh lantai.
Lalu turunkan tubuh hingga siku menekuk. Turunkanlah semampunya. Tahan sampai 20 detik. Angkat punggung secara perlahan. Kedua tangan menyangga tubuh bagian atas. Uujung kaki sebagai tumpuan tubuh bagian bawah. Tahan 20 detik. Lalu ulangi gerakan sebanyak enam kali.
Gerakan ini bermanfaat karena untuk mengeluarkan cakra hati kita yang mendukung saat berhubungan intim.
Anjing Tengkurap
Awali posisi Anda dengan tengkurap di atas matras. Letakkan pergelangan tangan 6-12 inci di depan bahu. Lutut terpisah selebar pinggul dan jari-jari kaki meringkuk di bawah. Lalu angkat lutut ke atas. lalu doronglah tulang ke ekor ke atas, hingga tubuh membentuk huruf V terbalik.
Secara perlahan gerakkanlah dada Anda ke arah paha sampai telinga. Jika mampu, lakukan sampai lengan atas, dengan mastikan kepala Anda tak menjuntai. Jaga juga agar pinggul terangkat, dengan mendorongnya kuat ke dalam tangan.
Gerakan ini bermanfaat menenangkan emosi. Para ahli setuju, ini gerakan tepat sebelum melakukan hubungan seksual yang tepat. Maklum, gerakan ini secara perlahan menghangatkan tubuh Anda.
Pohon Berdoa
Anda harus berada dalam posisi berdiri. Biarkan kaki terbuka sejajar dengan panggul, dan letakkan kedua tangan di samping tubuh. Angkat kaki kanan dan pindahkan berat badan di seluruh kaki kiri. Tekuk kaki kanan dan dengan bantuan tangan kanan. Letakkan kaki kanan di paha dalam kaki kiri, di atas lutut.
Seandainya Anda kesulitan menjaga keseimbangannya, letakkan kaki kanan di bawah lutut kaki kiri. Lalu satukan kedua tangan di depan dada seperti posisi berdoa. Tahan beberapa saat, lalu kembalikan kedua tangan pada posisi Anda berdiri. Setelahnya lakukan dengan kaki kiri.
Ulangi gerakan pohon dari awal. Hanya saja kali ini angkat kedua tangan ke atas kepala dengan kedua tangan yang terbuka sejajar pundak. Gambarkan tangan sebagai ranting-ranting pohon yang kuat dan stabil. Tahan beberapa saat. Lalu ulangi untuk tubuh bagian kanan.
Gerakan ini bermanfaat karena melatih Anda fokus dan menjaga emosi tetap stabil. Emosi yang terjaga tetap baik akan menambah kualitas hubungan seksual. [mor]
INILAH.COM
kumpulan berita surat kabar tentang musik,pria,wanita,gaya hidup,makanan sehat,seputar kesehatan seks
Tampilkan postingan dengan label Pun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pun. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 April 2010
Rabu, 24 Maret 2010
Semangkuk Sup Pun Punya Sejarah
KOMPAS.com — Merebus adalah teknik memasak yang lebih menguntungkan dibandingkan menggoreng, membakar, atau memanggang. Hal ini disebabkan energi panas dapat lebih meresap ke bahan makanan sehingga dapat melepas racun atau zat yang kurang menguntungkan lainnya agar makanan aman dikonsumsi. Dengan teknik ini, manusia purba menyadari bahwa beragam hewan dan tanaman lebih banyak bisa dikonsumsi. Tulang hewan, misalnya, belum tentu bisa dimakan jika hanya dibakar.
Merebus makanan ternyata juga dapat menciptakan sensasi rasa baru. Butiran sereal, misalnya, jika direbus akan mengeluarkan butiran kanji sehingga menciptakan efek mengentalkan. Memanaskan beberapa jenis makanan sekaligus juga akan menyebabkan masing-masing bahan kehilangan kandungannya dan pada saat yang sama sarinya akan bercampur sehingga menciptakan rasa baru yang unik.
Berdasarkan sebuah data kuno, orang primitif telah mengonsumsi sup dan sejenis bubur. Pada zaman Neolitikum, sup telah dikonsumsi di daerah Mediterania. Setelah Kekaisaran Romawi runtuh, sup bertahan di Kekaisaran Bizantium yang berpusat di Konstantinopel. Berkat runtuhnya Kekaisaran Ottoman di Turki pada 1454, tradisi menyantap sup di Asia Tengah ditularkan kepada masyarakat Eropa. Tak seperti di Eropa Barat, orang Turki tidak membatasi mengonsumsi sup pada momen khusus atau saat menyantap hidangan tertentu saja.
Air rebusan kemudian berkembang menjadi air kaldu, berhubung orang pada zaman itu mulai terbiasa merebus daging yang disajikan di mangkuk besar dan disantap beramai-ramai dengan menghirup langsung dari mangkuk. Sementara kelas menengah di Eropa cukup hanya menghirup air kaldu, kalangan bangsawan telah menambahkan daging atau sayuran ke dalam air kaldu.
Sebelum sendok ditemukan, isi daging dan sayuran diambil langsung dengan tangan dari mangkuk dan lama-kelamaan menggunakan pisau untuk mengambilnya. Baru pada abad ke-14 sendok ditemukan sebagai media untuk mengambil kuah dan ampas sup sehingga sup tidak tumpah mengotori baju, mengingat saat itu model baju Eropa berupa atasan dengan kerah renda yang besar dan mengembang kaku. Bentuk awal sendok yang tidak nyaman dipakai–sehingga tetap mengotori baju–pun berubah dengan gagang yang lebih panjang dan ceruk sendok diperbesar yang mampu mengurangi kemungkinan sup tumpah ke baju.
Merebus makanan ternyata juga dapat menciptakan sensasi rasa baru. Butiran sereal, misalnya, jika direbus akan mengeluarkan butiran kanji sehingga menciptakan efek mengentalkan. Memanaskan beberapa jenis makanan sekaligus juga akan menyebabkan masing-masing bahan kehilangan kandungannya dan pada saat yang sama sarinya akan bercampur sehingga menciptakan rasa baru yang unik.
Berdasarkan sebuah data kuno, orang primitif telah mengonsumsi sup dan sejenis bubur. Pada zaman Neolitikum, sup telah dikonsumsi di daerah Mediterania. Setelah Kekaisaran Romawi runtuh, sup bertahan di Kekaisaran Bizantium yang berpusat di Konstantinopel. Berkat runtuhnya Kekaisaran Ottoman di Turki pada 1454, tradisi menyantap sup di Asia Tengah ditularkan kepada masyarakat Eropa. Tak seperti di Eropa Barat, orang Turki tidak membatasi mengonsumsi sup pada momen khusus atau saat menyantap hidangan tertentu saja.
Air rebusan kemudian berkembang menjadi air kaldu, berhubung orang pada zaman itu mulai terbiasa merebus daging yang disajikan di mangkuk besar dan disantap beramai-ramai dengan menghirup langsung dari mangkuk. Sementara kelas menengah di Eropa cukup hanya menghirup air kaldu, kalangan bangsawan telah menambahkan daging atau sayuran ke dalam air kaldu.
Sebelum sendok ditemukan, isi daging dan sayuran diambil langsung dengan tangan dari mangkuk dan lama-kelamaan menggunakan pisau untuk mengambilnya. Baru pada abad ke-14 sendok ditemukan sebagai media untuk mengambil kuah dan ampas sup sehingga sup tidak tumpah mengotori baju, mengingat saat itu model baju Eropa berupa atasan dengan kerah renda yang besar dan mengembang kaku. Bentuk awal sendok yang tidak nyaman dipakai–sehingga tetap mengotori baju–pun berubah dengan gagang yang lebih panjang dan ceruk sendok diperbesar yang mampu mengurangi kemungkinan sup tumpah ke baju.
Tidur Kurang, Bercinta Pun Malas
KOMPAS.com — Jangan sepelekan berkurangnya waktu tidur. Banyak hal penting jadi terabaikan gara-gara kita kelelahan akibat kurang tidur, salah satunya adalah seks. Survei terbaru menunjukkan, banyak pasangan suami istri yang malas bercinta karena kelelahan akibat kurang tidur.
Survei terbaru yang dilakukan oleh National Sleep Foundation, Amerika Serikat, menyebutkan, selain urusan gairah bercinta yang padam, tubuh lelah dan mata yang berat karena mengantuk juga menyebabkan banyak orang yang terlalu lelah untuk melakukan kegiatan sosial bersama keluarga.
Menurunnya gairah bercinta karena alasan kelelahan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Apalagi kemesraan hubungan suami istri berpengaruh besar terhadap keharmonisan perkawinan. Salah satu kiatnya adalah mencari waktu untuk relaksasi dan menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan gangguan tidur.
Dalam survei yang dilakukan secara acak pada 1.007 orang dewasa berusia 25-60 tahun itu difokuskan pada perbedaan kebiasan tidur berdasarkan kelompok etnis. Namun, masalah kurang tidur yang menyebabkan kelelahan dan malas bercinta dikeluhkan hampir sebagian besar responden dari berbagai kelompok.
Orang kulit putih merupakan kelompok yang paling sering mendapat diagnosis insomnia, sedangkan orang kulit hitam lebih sering mengalami sleep apnea, salah satu bentuk gangguan tidur.
Sementara itu, orang hispanik (Amerika Latin) dilaporkan sering terjaga hingga larut malam karena mereka merasa cemas pada masalah pekerjaan, finansial, kesehatan, dan persoalan asmara. Diperkirakan, tiga dari delapan orang mengaku kekurangan waktu tidur.
Orang keturunan Asia-Amerika memiliki waktu tidur yang paling ideal. Sekitar lima dari enam orang dari kelompok ini mengatakan lebih sering tidur nyenyak daripada mengalami gangguan. Mereka juga lebih jarang menonton TV atau minum alkohol sebelum tidur dan jarang berbagi ranjang dengan pasangan.
Survei terbaru yang dilakukan oleh National Sleep Foundation, Amerika Serikat, menyebutkan, selain urusan gairah bercinta yang padam, tubuh lelah dan mata yang berat karena mengantuk juga menyebabkan banyak orang yang terlalu lelah untuk melakukan kegiatan sosial bersama keluarga.
Menurunnya gairah bercinta karena alasan kelelahan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Apalagi kemesraan hubungan suami istri berpengaruh besar terhadap keharmonisan perkawinan. Salah satu kiatnya adalah mencari waktu untuk relaksasi dan menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan gangguan tidur.
Dalam survei yang dilakukan secara acak pada 1.007 orang dewasa berusia 25-60 tahun itu difokuskan pada perbedaan kebiasan tidur berdasarkan kelompok etnis. Namun, masalah kurang tidur yang menyebabkan kelelahan dan malas bercinta dikeluhkan hampir sebagian besar responden dari berbagai kelompok.
Orang kulit putih merupakan kelompok yang paling sering mendapat diagnosis insomnia, sedangkan orang kulit hitam lebih sering mengalami sleep apnea, salah satu bentuk gangguan tidur.
Sementara itu, orang hispanik (Amerika Latin) dilaporkan sering terjaga hingga larut malam karena mereka merasa cemas pada masalah pekerjaan, finansial, kesehatan, dan persoalan asmara. Diperkirakan, tiga dari delapan orang mengaku kekurangan waktu tidur.
Orang keturunan Asia-Amerika memiliki waktu tidur yang paling ideal. Sekitar lima dari enam orang dari kelompok ini mengatakan lebih sering tidur nyenyak daripada mengalami gangguan. Mereka juga lebih jarang menonton TV atau minum alkohol sebelum tidur dan jarang berbagi ranjang dengan pasangan.
Selasa, 23 Maret 2010
Lewat Mata, Narkoba Pun Terdeteksi
KOMPAS.com — Selain bisa mendeteksi penyakit, mata juga bisa menunjukkan seseorang tengah berada dalam pengaruh narkotika dan obat-obatan berbahaya atau narkoba.
Dokter Marganda, ahli kesehatan dari Rumah Sakit Omni International Alam Sutera, Tangerang, mengatakan, perubahan pada mata ini sangat tergantung dari jenis narkotika yang dikonsumsi. Contohnya, jika seseorang terlalu banyak mengonsumsi ganja, biasanya pupil matanya akan mengecil apabila terkena cahaya. "Karena ganja jenis narkotika yang memiliki efek depresi," ujarnya.
Akan tetapi, ada juga obat-obatan terlarang yang mempunyai efek kebalikannya, seperti ekstasi. Mengonsumsi ekstasi akan membuat pupil mata membesar. Sebab, narkotika jenis ini memberikan dampak senang yang berlebihan dan juga aktif. Dengan begitu, pupilnya akan membesar jika disorot cahaya.
Selain itu, mengonsumsi ekstasi juga membuat seseorang menjadi tidak terlalu memerhatikan lingkungan sekitarnya. Sebab, pengaruh ekstasi membuatnya terlalu asyik dengan dunianya sendiri. (Kontan/Raymond Reynaldi)
Dokter Marganda, ahli kesehatan dari Rumah Sakit Omni International Alam Sutera, Tangerang, mengatakan, perubahan pada mata ini sangat tergantung dari jenis narkotika yang dikonsumsi. Contohnya, jika seseorang terlalu banyak mengonsumsi ganja, biasanya pupil matanya akan mengecil apabila terkena cahaya. "Karena ganja jenis narkotika yang memiliki efek depresi," ujarnya.
Akan tetapi, ada juga obat-obatan terlarang yang mempunyai efek kebalikannya, seperti ekstasi. Mengonsumsi ekstasi akan membuat pupil mata membesar. Sebab, narkotika jenis ini memberikan dampak senang yang berlebihan dan juga aktif. Dengan begitu, pupilnya akan membesar jika disorot cahaya.
Selain itu, mengonsumsi ekstasi juga membuat seseorang menjadi tidak terlalu memerhatikan lingkungan sekitarnya. Sebab, pengaruh ekstasi membuatnya terlalu asyik dengan dunianya sendiri. (Kontan/Raymond Reynaldi)
Di Negeri Obama Pun Rokok Kian Diatur
Kompas.com — Selama beberapa hari pada awal Maret lalu, pemberitaan seputar aksi lokal sejumlah warga Atlanta, Amerika Serikat, yang menuntut agar pajak rokok dinaikkan, terselip di antara berbagai berita panas politik dan ekonomi negeri Paman Sam itu.
Di negara itu produsen rokok memang kian "terjepit" oleh tuntutan pajak, aturan registrasi, sampai dengan pembatasan tempat merokok. Hal ini sungguh berbeda dengan di Indonesia. Lantaran longgarnya kontrol, Indonesia menjadi tempat menyenangkan bagi produsen rokok internasional, termasuk produsen internasional yang berbasis di Amerika.
Sadar ada bahaya
Di sejumlah belahan dunia, termasuk Amerika Serikat, produk tembakau sudah lama disadari bahayanya bagi kesehatan masyarakat.
"Angka kematian akibat penyakit terkait merokok mencapai 443.000 per tahun di sini. Dengan berbagai cara, persentase orang dewasa yang merokok dapat diturunkan hingga sekarang sekitar 20 persen. Pada 1990, persentasenya jauh lebih tinggi. Belakangan, persentase itu stagnan. Diduga, krisis ekonomi ikut menurunkan anggaran kampanye antitembakau. Padahal, pihak industri budget iklannya kuat,” ujar Stephen Babb, analis kesehatan publik dari National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion, Divisi Smoking and Health, Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika. Hal itu diungkapkan Stephen di sela acara Crisis and Emergency Risk Communication Training di Atlanta, awal Maret lalu.
Stephen meyakini, kebijakan berbasis populasi tetap yang terbaik dalam mengontrol konsumsi produk tembakau. Salah satunya dengan penetapan kawasan dilarang rokok secara komprehensif, termasuk di tempat hiburan, seperti bar, kelab, dan restoran. Kebijakan itu setidaknya memberikan lingkungan yang mendukung bagi perokok yang berniat berhenti. Kebijakan tersebut juga merupakan langkah tercepat guna melindungi warga bukan perokok. Efek positif lainnya ialah mengubah perilaku dengan membuat kesan bahwa merokok sama sekali tidak keren.
Pakar komunikasi dari CDC Amerika, Barbara Reynolds, mengatakan, penegakan kawasan dilarang merokok komprehensif itu tidak mudah dan kerap muncul penolakan.
Di New York, misalnya, pengusaha tempat hiburan, terutama bar, pernah menolak. Mereka khawatir penjualan minuman berkurang karena aturan tersebut. Kenyataannya, tidak demikian. Awalnya, orang memang tidak peduli, tetapi dengan usaha terus-menerus, aturan perlahan diikuti. Saat ini, terdapat 21 negara bagian plus Distrik Columbia yang menerapkan aturan komprehensif kawasan dilarang merokok. Di negara bagian lainnya, ada larangan merokok dengan penetapan sejumlah kawasan tertentu.
Tingkatkan pajak
Stephen menambahkan, produk tembakau juga dikontrol dengan meningkatkan pajak tembakau. Kebijakan itu berakibat meningkatkan harga rokok sehingga setidaknya menghambat orang muda yang ingin bereksperimen.
Dengan harga yang tinggi, masyarakat berpendapatan rendah akan (dipaksa) berhenti. Pendapatan hasil pajak tembakau kemudian digunakan untuk program kontrol tembakau.
Sejauh ini, sekitar 14 negara bagian meningkatkan pajak tembakau. Pajak tembakau di Negeri Paman Sam itu meningkat selama sepuluh tahun terakhir dari 30-40 sen (sekitar Rp 3.600) per pak rokok menjadi 1,5-3,0 dollar AS (sekitar Rp 13.500-Rp 27.000 per pak.
Tahun lalu, dikeluarkan pula peraturan baru yang memberikan kewenangan kepada Badan Makanan dan Obat (FDA) untuk mengatur produk tembakau. "Pemerintah mempunyai akses dan pengaruh besar mengontrol kandungan di dalam rokok. Di samping itu, produk tembakau juga harus terdaftar dan industri harus membuka akses terhadap dokumen-dokumen mereka," kata Stephen.
Namun, para ahli kesehatan masyarakat tidak lantas bersorak bergembira. Mereka masih menunggu implementasi dari peraturan tersebut. "Pengalaman pada masa lalu, industri biasanya cenderung berupaya mencari jalan untuk menghindar," ujar Stephen.
Dia mengatakan, pendapat yang menyatakan mundurnya industri tembakau akan berdampak besar terhadap ekonomi adalah pendapat yang berlebihan. Persoalannya, biaya kesehatan yang dikeluarkan jauh lebih besar. Masyarakat yang sakit pun memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.
(INDIRA PERMANASARI)
Di negara itu produsen rokok memang kian "terjepit" oleh tuntutan pajak, aturan registrasi, sampai dengan pembatasan tempat merokok. Hal ini sungguh berbeda dengan di Indonesia. Lantaran longgarnya kontrol, Indonesia menjadi tempat menyenangkan bagi produsen rokok internasional, termasuk produsen internasional yang berbasis di Amerika.
Sadar ada bahaya
Di sejumlah belahan dunia, termasuk Amerika Serikat, produk tembakau sudah lama disadari bahayanya bagi kesehatan masyarakat.
"Angka kematian akibat penyakit terkait merokok mencapai 443.000 per tahun di sini. Dengan berbagai cara, persentase orang dewasa yang merokok dapat diturunkan hingga sekarang sekitar 20 persen. Pada 1990, persentasenya jauh lebih tinggi. Belakangan, persentase itu stagnan. Diduga, krisis ekonomi ikut menurunkan anggaran kampanye antitembakau. Padahal, pihak industri budget iklannya kuat,” ujar Stephen Babb, analis kesehatan publik dari National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion, Divisi Smoking and Health, Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika. Hal itu diungkapkan Stephen di sela acara Crisis and Emergency Risk Communication Training di Atlanta, awal Maret lalu.
Stephen meyakini, kebijakan berbasis populasi tetap yang terbaik dalam mengontrol konsumsi produk tembakau. Salah satunya dengan penetapan kawasan dilarang rokok secara komprehensif, termasuk di tempat hiburan, seperti bar, kelab, dan restoran. Kebijakan itu setidaknya memberikan lingkungan yang mendukung bagi perokok yang berniat berhenti. Kebijakan tersebut juga merupakan langkah tercepat guna melindungi warga bukan perokok. Efek positif lainnya ialah mengubah perilaku dengan membuat kesan bahwa merokok sama sekali tidak keren.
Pakar komunikasi dari CDC Amerika, Barbara Reynolds, mengatakan, penegakan kawasan dilarang merokok komprehensif itu tidak mudah dan kerap muncul penolakan.
Di New York, misalnya, pengusaha tempat hiburan, terutama bar, pernah menolak. Mereka khawatir penjualan minuman berkurang karena aturan tersebut. Kenyataannya, tidak demikian. Awalnya, orang memang tidak peduli, tetapi dengan usaha terus-menerus, aturan perlahan diikuti. Saat ini, terdapat 21 negara bagian plus Distrik Columbia yang menerapkan aturan komprehensif kawasan dilarang merokok. Di negara bagian lainnya, ada larangan merokok dengan penetapan sejumlah kawasan tertentu.
Tingkatkan pajak
Stephen menambahkan, produk tembakau juga dikontrol dengan meningkatkan pajak tembakau. Kebijakan itu berakibat meningkatkan harga rokok sehingga setidaknya menghambat orang muda yang ingin bereksperimen.
Dengan harga yang tinggi, masyarakat berpendapatan rendah akan (dipaksa) berhenti. Pendapatan hasil pajak tembakau kemudian digunakan untuk program kontrol tembakau.
Sejauh ini, sekitar 14 negara bagian meningkatkan pajak tembakau. Pajak tembakau di Negeri Paman Sam itu meningkat selama sepuluh tahun terakhir dari 30-40 sen (sekitar Rp 3.600) per pak rokok menjadi 1,5-3,0 dollar AS (sekitar Rp 13.500-Rp 27.000 per pak.
Tahun lalu, dikeluarkan pula peraturan baru yang memberikan kewenangan kepada Badan Makanan dan Obat (FDA) untuk mengatur produk tembakau. "Pemerintah mempunyai akses dan pengaruh besar mengontrol kandungan di dalam rokok. Di samping itu, produk tembakau juga harus terdaftar dan industri harus membuka akses terhadap dokumen-dokumen mereka," kata Stephen.
Namun, para ahli kesehatan masyarakat tidak lantas bersorak bergembira. Mereka masih menunggu implementasi dari peraturan tersebut. "Pengalaman pada masa lalu, industri biasanya cenderung berupaya mencari jalan untuk menghindar," ujar Stephen.
Dia mengatakan, pendapat yang menyatakan mundurnya industri tembakau akan berdampak besar terhadap ekonomi adalah pendapat yang berlebihan. Persoalannya, biaya kesehatan yang dikeluarkan jauh lebih besar. Masyarakat yang sakit pun memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.
(INDIRA PERMANASARI)
Waspada, Kanker Payudara pun Menyerang Saat Kehamilan
KOMPAS.com- Kehamilan dan laktasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari diri seorang perempuan. Kehamilan sendiri seringkali dipandang sebagai masa di mana seorang perempuan menganggap dirinya sebagai calon ibu dan akan sangat menjaga kesehatannya sehingga kemungkinan bahwa ia terkena kanker sangatlah jauh dari pemikirannya.
Meskipun jarang, diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.
Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara.
Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.
Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.
Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.
Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya, tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.
Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.
dr.Intan Airlina Febiliawanti
Meskipun jarang, diagnosis kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua setelah kanker serviks sebagai kanker yang paling sering didapatkan semasa kehamilan dan juga pada masa persalinan.
Dalam beberapa studi, perempuan yang terpapar dengan kadar estrogen yang tinggi dalam kurun waktu yang lama diperkirakan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara.
Ini termasuk untuk perempuan yang mempunyai masa menstruasi lebih lama, permulaan menstruasi sebelum usia 12 atau pada mereka yang baru mengalami menopause setelah usia 55 tahun.
Beberapa studi menyatakan laktasi yang dilakukan hingga kurun waktu 1½ hingga 2 tahun bisa mengurangi risiko kanker payudara atau pada mereka yang mempunyai anak banyak sehingga sering menyusui anaknya.
Perubahan hormonal dan imunologi yang terjadi pada saat kehamilan sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab pertumbuhan sel kanker payudara, akan tetapi hal ini masih menjadi kontroversi karena masih banyak studi yang belum berhasil membuktikannya. Hal ini disebabkan tidak adanya perbedaan insiden dari kanker payudara pada perempuan hamil dan tidak hamil pada populasi umum.
Alasan mengapa kehamilan dan laktasi berpengaruh terhadap risiko kanker payudara? Mungkin disebabkan karena kurangnya siklus menstruasi selama hidupnya, tetapi ada sebuah informasi baru yang menyatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan adanya kadar hormon lain yaitu prolaktin.
Sebuah studi pada 2008 menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui bayinya hingga satu tahun bahkan lebih mempunyai kadar prolaktin yang rendah hingga seumur hidupnya meskipun mereka tak lagi menyusui. Hal ini juga diperkirakan berpengaruh terhadap risiko kanker payudara, akan tetapi hal ini masih harus ditelusuri lebih lanjut.
dr.Intan Airlina Febiliawanti
Hidup Sehat, Seks Pun Hebat
Gaya hidup yang tidak sehat menyumbang peran amat penting dalam persoalan seksual. Demikian ditegaskan Andorolog, Nugroho Setiawan, di Jakarta, Kamis (19/2).
"Beberapa contoh gaya hidup yang tidak sehat adalah olahraga yang berlebihan, merokok, stres, dan terlampau banyak bekerja, kurang bergerak, makan yang berlebihan, dan tidurnya kurang," kata Nugroho.
Jika pola hidup yang seperti itu tetap dipertahankan, menurut Nugroho, seseorang berisiko terkena masalah dalam hidup seksualnya, seperti menurunnya gairah seksual, testosteron, dan muncul disfungsi ereksi.
Nugroho menambahkan, jika tidak ada intervensi pada perubahan pola hidup ini, yang bersangkutan tak hanya sulit ereksi, tetapi juga bakal terkena sindroma metabolik atau metabolic syndrome (MS). Yang termasuk dalam MS adalah obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes, menurunnya hormon androgen dengan hormon utamanya testosteron.
Menurut Nugroho, jika seseorang mengalami MS, sebaiknya ia memerhatikan secara serius pola hidupnya. "Bagaimanapun pola hidupnya harus diubah menjadi pola hidup yang sehat, selain ia harus juga mendapatkan terapi testosteron," kata Nugroho.
Pola hidup sehat yang dijalankan akan membuat badan tidak kegemukan, kulit berminyak, rambut tidak rontok, tulang yang kuat, dan yang paling penting kehidupan seksual yang memuaskan.
Langganan:
Postingan (Atom)